Sabtu, 21 Januari 2012

Curhatkanlah Saja~

Ibarat benda, mungkin gue udah semacam buku diary buat beberapa temen gue. Kadang gue jadi pengamat fashion. Yang ini gue nggak ngerti kenapa harus nanya gue, selera fashion gue kan.. ya begitulah selera rakyat (jelata). Untungnya mereka nggak anggep gue sebagai pegadaian. Aku tak punya apa-apa. Harta tak punya, cinta pun tak ada. Lagu dangdut pun berdendang..
Kali ini gue mau sedikit cerita tentang pengalaman jadi temen curhat temen gue. Gini-gini gue jadi temen curhat beberapa temen gue loh ya. Curhatannya macem-macem, ada yang curhat masalah keluarga, temen, pacar, sampe MLM. Halah! Yang mau gue ceritain tentang curhat kali ini bukan mau ngobral curhatan temen gue. Cuma mau sharing aja, abis gue bingung mau ngeblog apaan. Jadi, saat itu Kamis siang, pas semua anak di kelas gue lagi ngerjain soal UAS “Metodologi Design”, tiba-tiba temen gue yang inisialnya Dita.. Uhmm maaf ya gue nggak bisa sebut namanya. Nggak bisa sebut merk. Iya, jadi Dita ini kelar duluan ngerjain soalnya. Tunggu, gue bukan mau cerita tentang kelemotan otak gue. Ini nggak ada hubungannya sama soal ujian siang itu. Tapi pas Dita mau ngumpulin kertas jawabannya, tiba-tiba dia manggil gue yang kebetulan duduk didepannya. Gue bukan lagi pangku ya, gue duduk di kursi sendiri. Bukan juga gue bawa kursi sendiri dari rumah. Pokoknya gitulah.
“May, abis ini lo mau kemana?” Tanya Dita ini bisik-bisik.
Tadinya sih gue mau jawab, “Gue mau mangkal didepan. Biasa, jadi joki 3in1..” Tapi nggak deh. “Nggak kemana-mana, paling nemenin Tiwi ngerjain tugas.”
“Jangan kemana-mana yeh. Gue mau cerita.” Kata Dita.
Tapi yang bikin bingung, ini Dita mau pergi dulu ke rumah temennya dulu, yang juga temen gue. Terus nantinya kita ketemuan. Gue sih nggak bingung, tapi dia yang bingung ntar mau ketemuan dimana. Gue jadi ikutan bingung, padahal kan nggak seharusnya sebingung itu. Simplenya kan kita masih di sekitar kampus, kita kan bisa sms-an buat ngomong ketemuan dimananya. Karena dia bingung, akhirnya kita berdua sama-sama bingung. Gue akhirnya bingung juga tadi mau jawab apa di soal nomor 4. Padahal soal ujiannya Cuma ada 3 soal. Bingung kan lo semua? *cari temen*
Selesai ujian, gue cari makan siang sama temen-temen gue. Sepanjang perjalanan, terhitung 4 sms dan 4 missed call dari Dita ini. Entahlah, kenapa dia jadi lebih ribet nyariin gue ketimbang bokap gue sendiri. Sms dia belum gue bales dan mau gue bales, eh dia nelpon ke temen gue duluan. Sepenting inikah gue untuknya? Terharu. Terus kapan kamu nembak aku?
*dorr*
Ohiya dia cewek.
Akhirnya kita ketemuan di sebuah tempat makan ayam goreng depan kampus. Gue ngeliat betapa susahnya Dita ini nyariin gue sampe keringetan gitu. Hidung kembang kempis. Mata melotot. Badan membengkak dan, gue berlebihan.
Abis kita makan-makan, gue bersama 4 temen gue yang lain masih sibuk bantuin temen gue, Tiwi, ngerjain tugasnya. Temen gue 1 lagi, Karin, sibuk register kartu IM3 barunya yang didapat secara gratis. Iya, jadi tadi gue, Karin, Ijo, dan Tiwi abis dapetin perdana IM3 gratis. Yang katanya berisi pulsa 100ribu.
Awalnya si Tiwi ini sok jual mahal pas gue tawarin perdana IM3 gratis. Tapi pas mbak-mbaknya bawa setumpukkan kartu-kartu perdana lagi, Tiwi yang tadinya ada di sebelah kiri gue, mendadak menghilang. Dia udah bergabung sama gerombolan pemilih kartu gratis yang lain. Tuh kan doyan gratisan juga -__-
Begonya, pas di tempat makan kita baru nyadar kalo itu IM3 Pasca Bayar. Iyalah kita dapetin secara gratis dengan pulsa 100ribu. Tapi sebulan kemudian pasti akan ada orang dateng bawa tagihan. Namanya juga pasca bayar. Udah rebutan, register aja susah, pake ketauan kalo itu pasca bayar segala. Langsunglah kartu perdana temen-temen gue di rusak-rusakin dan dicemplungin ke gelas minuman bekas makan siang tadi. Punya gue masih gue kantongin, bukan mau gue pake, mau gue jual lagi. #mentalmahasiswa
Tugas Tiwi selesai, tugas rusak-rusakkin kartu perdana beserta tempat makannya juga selesai, terus kita balik ke kampus. Ditengah jalan gue dan Dita ini pisah sama Tiwi, Ijo dan Karin.
“Jadi lo mau ngomong dimana?” Tanya gue ke si Dita ini.
“Nggak tau. Terserah lo aja.”
“Toilet aja gimana?” Gue bingung mau ngasih masukkan apa dan gue juga nggak ngerti kenapa gue mesti jawab ini.
“Mau ngapain Madesaaaaa???!!” Kata Dita dengan hidung kembang kempisnya itu.
Akhirnya kita milih buat duduk di Orange CafĂ© kampus. Sebelum ngobrol, kita debat dulu mau pesen apa buat nemenin ngobrol. Nggak ada cemilan, karena banyak makanan berat semua. Gue sama Dita ini sempet debat antara mau pesen Kopi Susu atau Cappucino. Ujung-ujungnya si Dita ini ngomong ke gue, “Cappucino sama kopi susu kan sama, May..”
Oh gitu ya?!
Setelah cappuccino hangat datang. Dita mulai bercerita. Beliau masih belum galau..
“Iya, jadi gue lagi ada masalah sama cowok gue si ‘…’ ” Kata Dita membuka pembicaraan.
“Terus?” Tanya gue penasaran sambil meneguk cappuccino.
“Iya, jadi kita udah ada sedikit masalah dari Kamis minggu lalu. Pas kita ketemu di warnet itu..”
“Terus? Terus?”
“Nah pas malemnya kita ribut gede.”
“Terus? Terus? Terus?”
*disiram segelas cappucino sama Dita*
Dan bla bla bla blaaaaaaa Dita cerita panjang lebar. Ibarat sinetron, kita lagi flashback mulai dari hari Kamis seminggu yang lalu. Gue harus lebih serius ngedengerinnya. Karena kalo gue meleng dikit, gue akan ketinggalan moment penting ini. Dita cerita aja kira-kira sejaman ada. Kalo dia bukan temen gue, mungkin gue udah ketiduran.
“Si ‘…’ marah banget sama gue gara-gara gue nanya soal itu.” Kata Dita yang mulai terlihat aura galaunya.
“Oh gitu. Itu pas Kamis bukan? Pas lo ketemu gue di warnet?” Tanya gue serius.
“Bukan, itu malemnya.”
Dan Dita mulai cerita lagi. Dan gue juga dengerin secara seksama kembali.
“Pas gue cek hapenya, ternyata ‘…’ boongin gue.” Cerita Dita.
“Oh. Itu pas hari apa tuh? Minggu bukan? Apa Sabtu?” Gue nyimak, tapi bingung.
“Bukan, itu Sabtunya, pas katanya dia lagi ke Bogor.” Jawab Dita dengan sabar.
Dita melanjutkan ceritanya dan gue yakin kalo gue harus lebih konsentrasi.
“Nah besoknya gue ke rumah ‘…’ lagi, terus ngomongin soal masalah itu..”
“Hmm gitu. Itu hari apa tuh? Kamis bukan?” Tanya gue lagi.
“Bukaaan. Itu Jum’at. Jum’at, Sabtu sama Minggu biasanya gue main kesana.”
Iya, teman-teman. Sepanjang curhatan Dita selama 2 jam, pertanyaan terbanyak gue ada pada masalah hari. Karena emang panjang banget flashbacknya. Seminggu! Gue harus ngapalin 8 hari dan tiap 1 harinya aja banyak kejadiannya. Emang terdengar lemot ya cara berpikir gue.
Nggak kerasa sesi curhat Dita sampai ke jam 5 sore. Makin sore beliau makin terlihat galau. ini lebih galau dari lagu Someone Like You – Adele, teman-teman. Baru kali ini ngeliat orang galau. Gue rasa, inilah galau yang sebenarnya. Selama ini gue Cuma ngeliat galau, tapi galaunya lewat status Facebook atau Twitter. Dan sekarang orang galau sebenarnya ada didepan mata gue. Sumpah gue terharu. Pengen minta tanda tangan..
Tapi gue jadi mikir, ternyata galau itu dibagi menjadi 3 secara prosesnya. Diantaranya:
1)      Galau secara alami -> Galau yang terjadi secara natural, tanpa dipaksakan.
2)      Galau secara kimiawi -> Galau yang terjadi karena bantuan media-media tertentu. Terkesan dipaksakan.
3)      Galau atas nama follower -> Galau yang terjadi sangat dipaksakan agar mendapatkan follower banyak. Dimaklumi, sebagian besar warga Twitter hobinya galau. Bisa disebut galau massal.
Kira-kira begitu. Kalo galau menurut waktu, itu ada 5. Galau Dhuhur, Galau  Ashar, Galau Maghrib, Galau Isya, sama Galau Shubuh. Bisa dilakukan secara jama’ah atau sendiri-sendiri alias independent. Biasanya gue sih jadi Imamnya. Halah. Udah-udah, ngeri FPI dateng.
Kembali ke curhatan Dita. Gue mencoba buat melupakan masalah hari. Terserah itu mau kejadiannya hari apa. Tapi gue mencoba untuk memberi masukan. Gue bisa jamin masukan gue bukan masukan yang sesat walaupun gue emang tergolong orang sesat. Gue jabarin panjang lebar, mendalam dan dikupas setajam silet tanpa sentuhan pukpuk. Gue orang yang nggak pernah jawab “Sabar yaa..” atau “Ikutin kata hati lo aja..”, karena jujur, gue orangnya nggak sabar dan gue nggak ngerti konsep orang yang suka jawab “Ikuti kata hati lo aja”, itu gimana ya caranya biar hati bisa ngomong? Itu gue coba sampe sekarang nggak bisa-bisa.
Alhamdulillah ada beberapa masukan gue yang diterima Dita ini dengan lapang dada dan dia laksanakan. Yang pasti selama gue diajak curhat gue nggak pernah maksa buat mereka terima dan melaksanakan yang gue katakan. Gue Cuma bisa ngasih masukan dan keputusan tertinggi tetap berada di tangan preseiden. Uhmm nggak, maksudnya di tangan mereka.
Kesimpulan ceramah gue yang panjang dan lebar ini, sebenernya sebuah penghargaan besar saat kita bisa dijadiin temen curhat. Itu bisa jadi pertanda kalo mereka percaya sama kita buat tenangin mereka ataupun bisa bantu menyelesaikan masalah mereka. Gue emang susah diajak serius. Malah keliatan nggak pantes diajak curhat, tapi gue juga bisa serius. Otak gue juga nggak lemot-lemot amat. Sejalan lah sama siput. Dan berbanggalah kalian yang bisa jadi teman setia curhat, teman kalian. Dan yang mau curhat sama temennya, jangan malu-malu. Sedikit atau banyak (agak plinplan ya), curhat itu bikin kalian tenang kok. So, curhatkanlah saja~
Hidup curhat! Hidup galau!